Minggu, 20 Januari 2013

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

A. Pendahuluan.
Kehidupan manusia dalam hakekatnya tidaklah hidup seorang diri, melainkan hidup bersama-sama dengan pribadi lainya yang mempunyai agama atau kepercayaan berbeda. Setiap hari terjadi adanya hubungan dan berkomunikasi dengan pihak lain, baik dilingkungan tempat tinggal, sekolah ataupun dikampus, dikantor, dipasar, direstoran, dan lain sebagainya. Singkatnya dimana manusia berada selalu bertemu dengan orang-orang yang mempunyai agama dan kepercyaan serta keyakinan yang berbeda. Perbedaan ini meliputi bentuk dan cara mengungkapkannya, baik dalam bentuk gedung beribadat, cara-cara beribadat, isi kitab suci, maupun pandangan hidup dalam menjalani hidup dan kehidupan yang ahkirnya berkembang dan melahirkan keaneka-ragaman yang luas, dan berharga. Seperti pada hari raya Idul Fitri umat muslim banyak yang melaksanakan sholat Idul Fitri di mesjid-mesjid, umat kristiani dimalam Natal mengumandangkan lagu-lagu rohani di gereja-gereja, umat Hidup merayakan Nyepi, Galungan, Kuningan di Pura dan umat Buddha memperingati hari Waisak, Asadha bersama-sama di vihara maupun cetiya.

Warisan sejarah demikian ini menjadikan tantangan bagi generasi sekarang untuk memahami dan menghargai kekayaan nilai suatu bangsa, masing-masing harus saling bertukar pikiran tentang keyakinan dan keimanan agama lain, untuk memperluas cakrawala pandangan memahami agama dan keyakinan sendiri. Terpenting adalah untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Masalah kerukunan umat beragama adalah hal yang penting bagi suatu bangsa dalam memelihara kesatuan dan persatuan bangsa. Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam sidang tahun 1978 mengeluarkan ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang sila Ketuhana Yang Maha Esa, yaitu; “Dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Didalam kehidupan masyarakat Indonesia dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antar pemeluk-pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda sehingga dapat selalu dibina kerukunan hidup diantara sesama umat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa”.

B. Menurut Para Ahli
Dr. L.M.Joshi dari Univesitas Punjab-India menagatkan “Kerukunan antar umat beragama, bila dan jika akan terrcapai, merupakan suatu anugerah bagi bumi ini”. Pengembangan kerukunan beragama merupakan hal terpenting bagi terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa serta untuk menjaga stabilitas nasional. Yang cukup menggembirakan saat ini adalah kerukunan beragama telah terwujud dan dirasakan berasama seluruh pelosok tanah air, para ahli dari luar negeri pun mengakui, seperti Prof. Muh. Ayub dari Universitas Toronto, Kanada menyatakan “ Indonesia adalah salah satu Negara yang umat beragamanya hidup rukun dan untuk menciptakan situasi kerukunan tersebut perlu dikembangkan studi bersama perbandingan antar agama. Pengetahuan yang serupa penting artinya karena memungkinkan setiap umat beragama untuk saling menghargai, menghormati dan bekerja sama dalam memciptakan kerukunan dan kesejahteraan berasama.

C. FORMAT KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA MENURUT PANDANGAN AGAMA KATOLIK*)

( Oleh Ir. Norbert Ama Ngongu, MP )



DASAR UNTUK HIDUP RUKUN DAN DAMAI
Menurut ajaran Katolik, manusia itu adalah citaan Tuhan Yang Paling Mulia. Dalam suatu Kitab Suci dikatakan bahwa pada awal mula manusia diciptakan menurut rupa
dan citra Allah sendiri. Hanya manusia saja yang dikatakan diciptakan menurut rupa dan citra Allah. Ciptaan-ciptaan lain tidak dinyatakan demikian.

Jadi manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling indah, melampaui harga dan keindahan ciptaan apapun yang pernah ada dan akan ada di dunia ini, selain manusia itu sendiri. Karena Allah itu maha tahu, maha pencipta, maka yang namanya manusia, ia adalah hasil cetak biru yang luar biasa canggihnya yang pernah dilakukan oleh Allah. Tiap orang diciptakan oleh Tuhan sebagai nomor seri yang kesekian yang pertama dan terakhir. Karena itu tidak akan pernah ada dua orang yang pernah dilahirkan dimuka bumi yang sama persis. Tiap pribadi adalah unik, dan itulah karya Agung Tuhan yang maha canggih.

Allah itu juga adalah maha pengasih dan Penyayang, kasih dan sayangnya tak terukur atau takberhingga, singkatnya Ia sama dengan Kasih, dan karenanya Allah mencintai manusia dengan kasih sayang yang penuh, atau dengan kata lain, Allah tidak pernah mencitai manusia dengan separoh hati, atau sepersekian hati melainkan dengan penuh hati. Cinta Tuhan kepada manusia adalah 100% dan abadi. Di mata Tuhan, manusia adalah ciptaan-Nya yang paling berharga. Sejak dikandung ibunya, ketika manusia masih belum mengerti tentang cinta, ketika manusia belum tahu mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, Allah sudah terlebih dahulu mencintai manusia. Begitu besar cinta Allah kepada manusia sehingga Ia mencitakan bumi dengan segala segala isinya dan diserahkan pengelolaannya kepada manusia untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia ciptaannya itu.
Karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia dan berharga, maka tidak ada kekuasaan apapun, dan dengan alasan apapun untuk dibenarkan melecehkan/menghina apalagi membunuh ciptaan Tuhan yang namanya manusia itu.

Saya dan saudara adalah bagian dari umat manusia yang menghuni bumi yang sama ini, dan dicintai Tuhan.
Jika saya mengatakan saya mencintai Tuhan, maka alangkah indahnya jika saya juga mengatakan saya mencintai sesama saya, karena saya tidak mungkin dapat mencintai Tuhan yang tidak kelihatan jika sesama manusia saya sebagai sesama ciptaan Tuhan yang kelihatan saja, saya tidak dapat mencintai mereka. Karena itu jika Tuhan begitu menghargai dan mencintai manusia, maka saya tidak mempunyai alasan untuk menghina/melecehkan apalagi sampai membunuh sesama saya.

*) Makalah disampaikan dalam Workshop Kerukunan Umat Beragama Tingkat Propinsi NTB, 26 Juli 2006 di PSBB Man 2 Mataram.

Sebab jika saya menghina sesama saya, itu artinya secara tidak langsung menghina pencipta-Nya yaitu Allah sendiri. Maka jika saya sungguh mencintai Allah, maka seyogianya juga saya harus mencitai sesama saya, karena sesama saya itu adalah para kekasih Allah sendiri.

Kami mencintai anda, kami membutuhkan anda semua. Kita bersaudara dalam siraman kasih Tuhan yang tanpa batas. Dengan keyakinan itu, seyogianya kita akan selalu saling membahagiakan. Karenanya dengan rendah hati, kami mengajak saudara-saudaraku, mari kita sama-sama saling merangkul, bergandengan tangan untuk membangun dan mewariskan suatu dunia yang lebih baik bagi anak-anak kita, bagi generasi penerus kita, yaitu suatu dunia yang penuh dengan kedamaian, kesejukan dan kesejahteraan atau bebas dari kekerasan dan kekejaman. Mari kita menjadi duta-duta perdamaian, duta-duta cinta. Mari....., bila ada perpecahan kita menjadi juru damai, bila ada keputus asaan kita menjadi pemberi harapan, bila ada kesesatan kita menjadi pembimbing, bila ada kebencian dan dendam kita menjadi pembawa cinta dan pengampunan. Kita ingin..., bila tiba saatnya, agar supaya suatu hari kelak, para arwah kita dapat beristirahat dengan damai dan bahagia, menyaksikan anak-anak kita, cucu-cucu kita dapat hidup dengan rukun dan damai antar mereka. Atau kita ingin jangan sampai ada suatu generasi damai yang hilang di muka bumi tanah air tercinta ini. Masakan, atas keinginan segelintir orang provokator saja, kita semua yang cintai damai sebanyak duaratusan juta jiwa ini, mau-mau saja terpengaruh dan dibuat kalang kabut oleh ulah mereka?

FORMAT KERUKUNAN
Diperlukan Silaturahmi berkesinambungan antar tokoh agama, baik secara formal maupun informal.
Diperlukan kegiatan bhakti sosial bersama antar semua penganut agama Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu.
Untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan bersana tersebut di atas, diperlukan permbentukan wadah koordinasi yaitu Forum Komunikasi antar Umat Beragama.

------- Peace ------ 

Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama
Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama Relevansi Kan. 748 KHK 1983 Pendahuluan Gereja Katolik sangat menaruh perhatian kepada kerukunan hidup antar umat beragama. Hal itu dapat kita baca dalam dokumen – dokumen Gereja secara khusus dalam Konsili Vatikan II. Dokumen Pernyataan tentang hubungan Gereja dengan Agama – Agama bukan Kristen (Nostrae Aetate) menyatakan pada pendahuluan bahwa: “Semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir yakni Allah, yang yang menyelenggarkan”. Selain dari pada itu dokumen pernyataan tentang kebebasan beragama (Dignitatis Humanae), no. 6: “Pada hakekatnya termasuk tugas setiap kuasa sipil: melindungi dan mengembangkan hak-hak manusia yang tak dapat diganggu-gugat. Maka kuasa sipil wajib melalui hukum-hukum yang adil serta upaya-upaya lainnya yang sesuai, secara berhasil-guna menanggung perlindungan kebebasan beragama semua warga negara dan menciptakan kondisi-kondisi yang menguntungkan dan mengembangkan hidup keagamaan”. Demikian juga dalam KHK 1983, kan. 748, ditegaskan bahwa: “Semua orang wajib mencari kebenaran dalam hal-hal yang menyangkut Allah dan Gereja-Nya, dan berdasarkan hukum Ilahi mereka wajib dan berhak memeluk dan memelihara kebenaran yang mereka kenal”. Selain itu, “Tak seorang pun boleh memaksa orang untuk memeluk iman katolik melawan hati nuraninya”. Bagaimana relevansinya kanon ini dalam membangun kerukunan hidup antar umat beragama? Dalam alam kebebasan itu manusia dapat menentukan imannya berdasarkan hati nuraninya yang bebas dari segala paksaan dan tekanan. Semua usaha manusia dalam mencari Allah yang diimaninya akan terwujud sebuah perdamaian jika diiringi dengan praktek hidup sehari-hari dalam dialog antar umat beragama. Gereja Katolik menawarkan sebuah spiritualitas dialogal yang berlandasan pada persaudaraan dalam peziarahan iman menuju persatuan dengan Allah.
1. Spiritualitas Dialogal Spiritualitas dialogal adalah gerakan manusia dalam membangun kerukunan yang sejati antar umat beragama di dunia. Gereja Katolik mengajak semua umat beragama di dunia untuk membangun kerukunan antar umat beragama melalui spiritualitas dialogal. Apakah Spiritualitas dialogal itu? Spiritualitas dialogal adalah sebuah gerakan religius umat beriman dengan mengosongkan dirinya untuk dipenuhi dengan Roh ilahi dan melihat realitas hidup di sekitarnya untuk berdialog secara integral dan transformatif dengan sesama umat beriman lainnya menuju kedamaian dan kerukunan hidup yang sesungguhnya.
2. Beberapa pokok Spiritualitas dialogal antar iman
2.1. Spiritualitas dialogal, suatu bentuk hidup yang didasarkan kepada Roh Tuhan, suatu ikatan relasi kasih antara manusia dengan Allah. Dasar Spiritualitas dialogal itu didasarkan pada kisah penciptaan sendiri (bdk. Kej. 1: 1-3) dan peristiwa penjelmaan-Inkarnasi dalam diri Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjadi daging (Yoh. 1:1-3: 14), dan sebagai anugerah Paskah-Nya mencurahkan Roh-Nya atas para murid-Nya. Itulah landasan biblis bagi spiritualitas dialogal yang bermuara pada bersatunya manusia dari segala bangsa dengan Allah yang disebut dengan “Manunggaling kawula Gusti”.
2.2. Spiritualitas dialogal, membutuhkan suatu penyadaran diri manusia bahwa kita diciptakan oleh Allah dengan Roh-Nya sesuai dengan gambaran dan rupa Allah sendiri dimana akhir perjalanan hidup manusia adalah persatuan Roh manusia dengan Allah itu sendiri (persatuan Atman dengan Paraatman dalam Hindhuisme). Lebih jauh dari pada itu, cinta kasih Allah kepada manusia tercurah melimpah dalam seluruh ciptaan alam semesta di dunia kosmos. Keselarasan satu kosmos itulah yang dalam dunia ketimuran menjadi akar dari seluruh kebersamaan hidup manusia di dunia, yang menurut tradisi Kristiani sebagai kelimpahan cinta ilahi. Kelimpahan cinta ilahi itu memuncak dalam peristiwa Inkarnasi dari Allah yang menjadi manusia, dalam diri Yesus. Dengan pernyataan ini pula, manusia diajak untuk menjaga keselarasan alam semesta (lingkungan) dengan yang ilahi.
2.3. Oleh karena itulah umat beriman sejati menyadari tanggungjawab yang mendesak untuk sekali lagi membangkitkan sikap tanggap sasmita: mendengarkan suara alam beserta misterinya. Umat beriman di manapun diundang untuk bertemu hati dalam keheningan dan cintakasih akan alam semesta, untuk menerima tata tertib karya Allah dan serasinya alam, untuk menandingi daya-daya destruktif yang menghancurkan lingkungan. Harmoni dengan alam semesta menghidupkan harmoni dalam hati dan menjalinkan harmoni antar pribadi sesama manusia.
2.4. Spritualitas dialogal pada intinya adalah spiritualitas yang menciptakan hubungan/ikatan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Allah. Maka spiritualitas dialogal mengungkapkan jawaban manusia terhadap panggilan Allah, terhadap sapaan ilahi dengan perantaraan Sang Sabda. Dalam dialog yang berlandaskan pada penciptaan itulah seluruh umat manusia atas kekuatan Roh Allah bergerak mendekati Allah satu-satunya.
2.5. Spiritualitas dialogal membutuhkan sikap dasar hati yang terbuka. Sikap yang demikian itu memmerlukan model kenosis (pengosongan diri), suatu kesadaran tak berdaya, pemurnian tiada hentinya dari kecenderungan pemusatan diri, egoisme, bertumbuh terbuka dalam dialog dengan umat beriman lainnya. Pada intinya kenosis terwujudkan dalam kematian menuju kebangkitan, mati bagi dirinya sendiri untuk memasuki hidup baru dalam kepenuhan hidup.
2.6. Spiritualitas dialogal bersifat komuniter, berpusatkan pada ekaristi, saat semua umat beriman sadar dan sengaja menghayati “anamnesis”, yakni kenangan akan Yesus Kristus beserta misteri PaskahNya, hidup dalam Gereja dan berkarya melalui Gereja.
2.7. Spiritualitas dialogal bersifat integral transformatif: merubah hidup orang beriman melalui sharing pengalaman hidup religius guna mengentaskan keterpurukan krisis total menuju Indonesia baru. Dalam pergulatan demi transformasi itu meminta semua umat beriman bersikap sabar dan rendah hati. Tiap peserta dialog harus mencoba mengakukan pada dirinya sedapat mungkin intuisi dan pengalaman sesama digunakan untuk mencoba mengungkapkan dan mengkomunikasikan pengalaman religiusnya.
2.8. Berkat bimbingan Roh Tuhan, semua umat beriman diajak berdialog berjalan bersama mencari kebenaran. Setiap peserta dialog antar umat beriman saling berbagai pengalaman religius kehidupan sehari-hari, saling memperkaya dan saling meneguhkan satu sama lain dalam membangun dunia yang rukun, damai dan sejahtera di bumi Indonesia.
3. Buah Spiritualitas dialogal antar umat beriman
3.1. Iman peserta mengalami pengayaan lewat sharing-kesaksian peserta dialog. Dengan itu pula iman peserta diperluas dengan peluang untuk saling mendengarkan, menghalau segala praduga yang sudah mengakar, memperlebar pengertian yang sempit.
3.2. Iman peserta dijernihkan berkat perjumpaan antar umat beriman untuk merevisi asumsi, pandangan yang keliru antar umat beragama. Meninggalkan masa lampau yakni pengalaman yang buruk dalam membangun kerukunan hidup beragama, saling mengampuni dan memulai babak baru yang makin baik menuju kerukunan yang sejati.
3.3. Iman peserta diperdalam dengan saling mengenal dan menghargai berdasarkan landasan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh oleh sikap dan perilaku kelompok ekstrim.
Spiritualitas dialog yang sejati dan mendalam akan merubah sikap hidup kita antar umat beriman dari dialog antar iman (interreligious dialogue – interfaith dialogue) menuju pertobatan (metanoia). Semua perserta dialog antar umat beriman menjadi tanda pertobatan yang mengantar umat manusia kepada Allah.
Penutup Sebagai penutup dari tulisan ini, perlu kiranya menjabarkan Spiritualitas dialogal secara konkrit dalam situasi pluri-agama dan pluri-kepercayaan/kebatinan. Beberapa pokok pikiran tentang hal itu adalah sebagai berikut:
  1. Kita hendaknya menyadari bahwa umat beragama dan umat kepercayaan/kebatinan lain adalah rekan-rekan seperjalanan dalam ziarah menuju Allah.
  2. Oleh karena itu merupakan kewajiban kita untuk menggalang kerekanan – kekerabatan – persaudaraan (menyama braya) antar umat beragama dan umat kepercayaan/kebatinan yang ada di dalam masyarakat Indonesia, sebagai model bagi hubungan sosial.
  3. Kekerabatan – persaudaraan (menyama braya) itu akan menghasilkan kerukunan sebagai prinsip hubungan sosial.
  4. Menjaga moralitas hidup yang baik, yang ditandai dengan kebenaran, kebaikan, keadilan, kejujuran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai insani luhur dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila sebagai ideologi dan dasar hidup kemasyarakatan.
  5. Mengusahakan kesejahteraan umum (bonum commune), yang adil makmur dan merata, terutama dalam opsi mengutamakan rakyat miskin dan tersingkir. Itulah Spiritualitas transformatif, merombak hidup umat beriman sendiri semakin menyerupai diri Allah, melahirkan umat manusia yang baru dipenuhi cinta kasih
D. Menurut Pandangan Saya Sendiri

Kerukunan antar umat beragama sangatlah penting dalam menjalani kelangsungan hidup di Indonesia negara saya sendiri. Karena di Indonesia terdapat 5 agama yang sudah diakui negara dan itu berarti menjaga kerukunan antar umat agama yang berbeda sangat - sangat diperlukan untuk mencagah terjadinya kesalah pahaman dan pertengkaran ataupun perselisihan. Kuncinya adalah toleransi, adil, dan rukun. Setiap umat beragama memiliki hak masing - masing namun hak tersebut diupayakan jangan sampai merugikan atau mengganggu agama lain dengan adanya toleransi saya rasa kerukunan bisa diwujudkan. Semoga saja tidak ada lagi yang namanya kaum minoritas dan mayoritas. Kita semua sama di mata Tuhan dan tentunya Tuhan akan sangat berbahagia apabila melihat umatnya rukun satu sama lain di dalam cinta kasih.  

SOURCE :
http://joenanto.multiply.com/journal/item/39
http://norbertang.blogspot.com/2008/03/format-kerukunan-antar-umat-beragama.html
http://semangatdhama.blogspot.com/2012/11/kerukunan-umat-beragama_20.html


Senin, 26 November 2012

makalah softskill 2


Makalah Softskill

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpJDfAOTUBo2MZgLfzzgsQ4iHP_TLf_7C75vfRQfKfj39tylGFbvOjJdpZ-16YdgQJV9B_pY2nDirvIZXn1NpFyyLP_nTr8egCs1LrYePKPthPPgmkQSNUSPWI4Ty0V8jxBdf9He1qVEpY/s949/images.jpeg

Disusun oleh:
Maria jenny kristanti
14611291
2SA01
UNIVERSITAS GUNADARMA
2012/2013






Kata pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

                                                                                                Depok, 23 november 2012


                                                                                                            Penyusun






BAB I
PENDAHULUAN

1.1             Latar belakang

Kehidupan seseorang sangatlah kompleks, begitu juga dengan hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan makhluk hidup, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Pencipta. Dan manusia diciptakan dengan sempurna , dengan sebaik-baik bentuk yang dimiliki.
Manusia juga harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan yang berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu tersebut manusia dapat membedakan antara yang hak dengan yang bukan haknya, dan antara kewajiban dan yang bukan kewajibannya. Sehingga norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan harmonis dan seimbang.
Pendidikan sebagai hasil kebudayaan haruslah dipandang sebagai “motivator” terwujudnya kebudayaan yang tinggi. Selain itu pendidikan haruslah memberikan kontribusi terhadap kebudayaan, agar kebudayaan yang dihasilkan member nilai manfaat bagi manusia itu sendiri khususnya maupun bagi bangsa pada umunya.
Dengan demikian dapat kita katakana bahwa kualitas mansuia pada suatu Negara akan menentukan kualitas kebudayaan dari suatu Negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.

1.2            Rumusan masalah
Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah :
1.Apa yang dimaksud dengan manusia sebagai mahluk sosial?
2.Apa yang dimaksud dengan manusia sebagai makhluk budaya?

1.3 Tujuan
è Untuk mengetahui pengertian dari manusia
è Untuk mengetahui pengertian sosial
è Untuk mengetahui pengertain dari manusia sebagai makhluk sosial
è Untuk mengetahui peran manusia sebagai makhluk sosial
è Untuk mengetahui pengertian budaya
è Untuk mengetahui pengertian dari manusia sebagai makhluk budaya













BAB II
PEMBAHASAN
Manusia sebagai makhluk sosial dan budaya
2.1 Pengertian manusia 
Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens”(Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi(mampu menguasai makhluk lain). Selain istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu
2.2 Pengertian sosial
Berikut ini adalah pengertian dan definisi ilmu-ilmu sosial menurut beberapa ahli:

Ø  LEWIS
sosial adalah sesuatu yang dicapai, dihasilkan dan ditetapkan dalam interaksi sehari-hari antara warga negara dan pemerintahannya

Ø  KEITH JACOBS
sosial adalah sesuatu yang dibangun dan terjadi dalam sebuah situs komunitas


Ø  RUTH AYLETT
sosial adalah sesuatu yang dipahami sebagai sebuah perbedaan namuntetap inheren dan terintegrasi

Ø  PAUL ERNEST
 sosial lebih dari sekedar jumlah manusia secara individu karena merekaterlibat dalam berbagai kegiatan bersama


2.3 MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL
Manusia sejak lahir sampai mati selalu hidup dalam masyarakat, tidak mungkin manusia di luar masyarakat. Aristoteles mengatakan: bahwa makhluk hidup yang tidak hidup dalam masyarakat ialah sebagai seorang malaikat atau seorang hewan. Di India oleh Mr. Singh didapatkan dua orang anak yang berumur 8 tahun dan 1 ½ tahun. Pada waktu masih bayi anak-anak tersebut diasuh oleh srigala dalam sebuah gua. Setelah ditemukan kemudian anak yang kecil mati, tinggal yang besar. Selanjutnya, walaupun ia sudah dilatih hidup bermasyarakat sifatnya masih seperti srigala, kadang-kadang meraung-raung di tengah malam, suka makan daging mentah, dan sebagainya. Juga di Amerika dalam tahun 1938, seorang anak berumur 5 tahun kedapatan di atas loteng, karena terasing dari lingkungan dia meskipun umur 5 tahun belum juga dapat berjalan dan bercakap-cakap. Jadi jelas bahwa manusia meskipun mempunyai bakat dan kemampuan, namun bakat tersebut tidak dapat berkembang, nika tidak ada lingkungan. Itulah sebabnya manusia dikatakan sebagai makhluk sosial. Di samping adanya hasrat-hasrat atau golongan instingtif pada manusia masih terdapat factor-faktor yang mendorong manusia untuk hidup bermasyarakat. Faktor-faktor itu adalah:

1.  Adanya dorongan seksual, yaitu dorongan manusia untuk mengembangkan keturunan atau jenisnya.
2. Adanya kenyataan bahwa manusia adalah serba tidak bisa atau sebagai makhluk lemah.karena itu ia selalu mendesak atau menarik kekutan bersama, yang terdapat dalam perserikatan dengan orang lain.
3. Karena terjadinya habit pada tiap-tiap diri manusia. Manusia bermasyarakat karena ia telah biasa mendapat bantuan yang berfaedah yang diterimanya sejak kecil dari lingkungannya.
4. Adanya kesamaan keturunan, kesamaan territorial, nasib, keyakinan/cita-cita, kebudayaan, dan lain-lain. Secara alamiah manusia berinteraksi dengan lingkungannya, manusia sebagai pelaku dan sekaligus dipengaruhi oleh lingkungan tersebut. Perlakuan manusia terhadap lingkungannya sangat menentukan keramahan lingkungan terhadap kehidupannya sendiri.
Manusia dapat memanfaatkan lingkungan tetapi perlu memelihara lingkungan agar tingkat kemanfaatannya bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan. Bagaimana manusia mensikapi dan mengelola lingkungannya pada akhirnya akan mewujudkan pola-pola peradaban dan kebudayaan. Manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial, karena ada faktor-faktor , yaitu:
a.Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b. Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia. B. Interaksi Sosial dan Sosialisasi

2.4 Fungsi dan Peran Manusia sebagai Makhluk Sosial

Manusia sebagai makhluk sosial memiliki implikasi-implikasi :
·  Kesadarann akan ketidakberdayaan manusia bila seorang diri.
·  Kesadaran untuk senantiasa dan harus berinteraksi dengan orang lain.
·  Penghargaan akan hak-hak orang lain.
·  Ketaatan terhadap norma-norma yang berlaku.
Sebagai makhluk sosial hendaknya manusia memiliki kepribadian. Yang dimaksud dengan kepribadian adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang dibangun oleh perasaan, pengetahuan, dan dorongan.
2.5Pengertian budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
            Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

2.6MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

 .Sebagai makhluk berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya.Manusia sebagai makhluk budaya Manusia sebagai makhluk budaya yang berkemampuan menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan dan bertanggung jawab sajalah yang berhak menyandang gelar “Manusia Berbudaya”.
  1. Kebudayaan itu hanya dimiliki oleh umat manusia.
  2. Kebudayaan itu tidak diturunkan secara biologis melainkan diperoleh melalui proses belajar.
  3. kebudayaan itu didapat, didukung dan diteruskan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

2.7  KONSEP-KONSEP BUDAYA DASAR
Manusia dan Keadilan Keadilan merupakan salah satu modal dasar bagi kehidupan terartur manusia. Keadilan mengacu suatu tindakan baik bagi kehidupan yang mesti dilakukan oleh setiap manusia. Manusia dan Penderitaan Penderitaan adalah rasa tidak menyenangkan yang setiap orang secara kemanusiaan ingin menghindarinya. Ini melengkapi ciri paradoksal yang menandai eksistensi manusia di dunia. Manusia dan Cinta Kasih Cinta kasih adalah perasaan suka kepada seseorang yang disertai dengan belas kasih dan kemesraan. Cinta merupakan sikap dasar ideal yang memungkinkan dimensi sosial manusia menemukan bentuknya yang khas manusiawi. Manusia dan Tangung Jawab Tanggung jawab adalah kewajiban melakukan keharusan tugas tertentu. Dasar tanggung jawab adalah hakekat keberadaan manusia sebagai mahluk yang mau menjadi baik dan memeperoleh kebahagiaan. Manusia dan Pengabdian Pengabdian diartikan sebagai perihal perilaku berbakti atau meperhamba diri kepada tugas yang (dianggap) mulia.
Manusia dan Pandangan Hidup Pandangan hidup berkenan dengan eksistensi manusia di dunia dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan alam tempat kita berdiam. Manusia dan Keindahan Eksistensi manusia di dunia diliputi oleh keindahan. Manusia tidak hanya penerima pasif tetapi juga pencipta keindahan bagi kehidupan. Manusia dan Kegelisahan Kegelisahan adalah merupakan gambaran keadaan seseorang yang tidak tentram (hati maupun perbuatannya), rasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah laku. Kegelisahan adalah salah satu ekspresi kecemasan. Peran/Fungsi Akai, Perasaan, dan Karsa Peran dan fungsi cipta, rasa, karsa merupakan faktor dominan bagi lahirnya kebudayaan.
Dengan akal/cipta manusia senantiasa berfikir, merenung menggagas, menginterpretasikan segala macam realitas, kehidupan yang dihadapi. Karenanya ia juga mempunyai gagasan-gagasan, angan-angan, harapan dan cita-cita dalam hidupnya. Tak terkecuali ia juga memikirkan kebutuhan hidupnya dan tata cara untuk mewujudkannya, baik yang berupa materi maupuan non materi, kebutuhan saat ini (didunia) maupuan saat nanti (di akhirat). Sebagai contoh: manusia (person/individu) untuk hidup harus makan. Maka ia berfikir yang harus dimakan,: mengapa harus makan, bagaimana caranya makan dan untuk apa ia makan. Dengan akalnya atau daya ciptanya manusia dapat mencari jawaban tentang sesuatu yang dapat dimakan. Berikut alasan-alasannya, tata cara/prosedurnya dan tujuannya ia makan, selain itu ia juga dapat berkembang ide-idenya, harapannya, gagasannya dan cita-citanya tentang sesuatu yang dapat dimakan, alasan dan tata caranya dalam hal makan serta tujuannya dalam soal makan.
Contoh lain seperti manusia (makhluk sosial) hidup diantara manusia lainnya. Karena memiliki akal ia berfikir bagaimana seharusnya agar dapat hidup baik dengan sesamanya. Ia meiliki harapan gagasan, cita-cita dan ide tentang hidup yang baik ialah saling-menghormati dan menghargai, tolong menolong dengan penuh toleransi, semertara pola hidup yang baik adalah kebutuhan manusia berbudaya. Manusia sebagai makhluk budaya selain memiliki akal juga mempunyai perasaan atau hati nurani oleh sebab itu manusia selalu dan pasti menghayati dan merasakan segala macam fenomena kehidupan seperti kesedihan, kejujuran, kebaikan, keadilan, keindahan, tanggung jawab, ketentraman, kedamaian, cinta kasih dan sebagainya yang menjadi realita kejiwaan atau psikologis. Berdasar perasaan atau nurani manusia memiliki cita, rasa yang menjadi kualitas atau ide-ide dalam hidupnya. Manifestasi fenomena psikologis seperti rasa sedih, gugup, adil, baik, indah, damai, tentram, bahagia, cinta, tanggung jawab, dan sebagainya itu; dalam realita kehidupan manusia selain dapat diidenlifikasi malalui berbagai bentuk sikap, perilaku tindakan dan raut wajah (pancaran cahaya) biasanya juga berupa berbagai bentuk ekspresi seni yang beraneka ragam jenisnya.
Kebutuhan Makhluk Budaya pada hakekatnya manusia adalah mahluk mono plucal /majemuk tunggal terdiri dari susunan kodrat (jasmani-rochani), sifat kodrat (individu sosial) serta kedudukan kodrat (pribadi mandiri-makhluk Tuhan). Susunan, sifat dan kedudukan kodrat manusia yang terdiri dua unsur tersebut. pada hakekatnya tidak dapat dlipisah-pisahkan dan bediri sendiri-sendiri meskipun hanya dalam pemikiran. Oleh sebab itu manusia hakekatnya adalah monodualis/dwitunggal. berdasarkan susunan kodratnya yang dwitunggal/monodualis, yakni terdiri dari jasmani dan rochani, maka kebutuhan makhluk budaya pun juga mancakup aspek jasmaniah dan rochaniah. Kebutuhan jasmaniah pada umumnya bersifat material seperti makan, minum, sandang tempat tinggal dan peralatan-peralatan lain yang berbentuk konkrit atau kebendaan, sedangkan kebutuhan rochaniyah biasanya berupa non materi, seperti kepuasan hati, kebahagiaan, ketentraman, kedamaian, keindahan, keadilan, kebaikan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepercayaan /keyakinan yang sifatnya spiritual dan religius.
Contoh: Makhluk manusia butuh makan dan minum untuk mempertahankan hidup, tetapi juga butuh ketenangan batin, kedamaian dalam hidupnya. Butuh kasih sayang dari orang tua dan keluarganya. Tetapi manusia juga butuh beribadah dan berdo'a, menyerahkan diri dan mengakui keberadaan Tuhan sebagai kausa prima. Menunrt sifat Kodratnya (monodualis/dwitunggal) yakni sebagai makhluk individu dan sosial, kiranya dapat disebutkan jika manusia makhluk budaya mempunyai kebutuhan pribadi yang secara spesifik berbeda dengan individu lainnya. Akan tetapi sebagai makhluk sosial ia juga memiliki kebutuhan yang sama dengan orang lainnya, Bentuk kebutuhan individu dapat diindivikasi melalui pemikiran dan perasaan seseorang yang cenderung berbeda antara personal yang satu dengan yang lain. Bahkan juga pada kehendaknya yang senantiasa ingin menjadi yang lebih atau yang paling baik dan antara lainnya. Sementara kebutuhan sosial dapat dipahami dan berbagai kesamaan baik di dalam pikiran dan perasaannya bahkan kehendak/Karsanya. Setiap orang mempunyai keinginan, pikiran.dan perasaan yang sama, yaitu ingin cerdas, baik hati dan suskes.











BAB III
PENUTUPAN
3.1   Kesimpulan
Ø  Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak . Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau berbicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Dapat disimpulkan bahwa manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial karena beberapa alasan yaitu :
1.      Manusia tunduk pada aturan dan norma sosial
2.      Perilaku manusia mengharapkan sesuatu penilaian dari orang lain
3.      Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
4.      Potensi manusia akan berkembang jika ia hidup ditengah-tengah manusia
Ø  Kebudayaan adalah salah satu istilah teoritis dalam ilmu-ilmu sosial. Secara umum, kebudayaan diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari pembahasan diatas kami dapat simpulkan bahwa manusia berhubungan erat dengan kebudayaan yang ada pada lingkungan sekitarnya. Karena kebudayaan tersebut merupakan cara beradaptasi untuk mengatur hubungan antar manusia sebagai wadah masyarakat menuju taraf hidup tertentu.
Kebudayaan berpengaruh dalam membentuk pribadi seseorang sehingga mengharuskan manusia untuk mengikuti norma-norma yang ada pada budaya tersebut.
Dengan demikian, budaya patokan cara hidup manusia di tempat dia berada. Selain itu dalam kebudayaan mengajarkan tentang keimanan
3.1   Saran
è Kita sebagai makhluk sosial hendaknya menanamkan nilai-nilai sosial yang pada saat ini luntur, janganlah mementingkan diri sendiri dalam hidup bermasyarakat.
è Kita sebagai mahluk berbudaya semestinya melestarikan budaya yang kita punya, jangan sampai budaya yang kita punya tidak kita lestarikan dan sampai punah. Karena siapa lagi jika bukan kita penerus bangsa yang melestarikan?
Kita lestarikan baik-baik budaya yang telah kita punya agar diakui oleh bangsa lain.